Anyaman tempat nasi atau boboko, menjadi salah satu ciri khas dari Desa Bagawat, Kecamatan Salajambe. Home industri ini telah berjalan selama puluhan tahun dan telah terbukti menjadi salah satu sumber pendapatan bagi warga desa.
Walaupun mayoritas masyarakat Desa Bagawat berprofesi sebagai petani, namun masysrakat desa juga mempunyai pekerjaan sampingan untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Di sela -sela waktu luang atau sepulang dari lahan pertanian, masyarakat membuat anyaman tempat nasi dari bambu, atau masyarakat menyebutnya boboko. Ada dua ukuran tempat nasi yang mereka buat, yaitu tempat nasi berukuran besar atau boboko, serta tempat nasi berukuran kecil atau ceceting.
Di Desa Bagawat ada Abah Dona, yang telah puluhan tahun menekuni profesi sebagai pembuat boboko. Jika pada pagi hari Abah Dona pergi ke ladang untuk bercocok tanam, pada sore harinya Abah Dona membuat anyaman bambu untuk tempat nasi, yaitu boboko dan ceceting.
Abah Dona menerangkan, ada beberapa tahapan untuk membuat boboko. Pertama, siapkan bambu yang kemudian digergaji dan di potong – potong menjadi beberapa bagian kecil. Setelah itu, raut bambu yang telah dipotong kecil. Setelah menjadi tipis, baru bambu yang telah di raut tipis bisa dianyam.
Setelah menganyam bambu yang telah diraut, Abah Dona melakukan proses soko atau pemberian kaki untuk boboko. Proses ini menggunakan bambu yang agak tebal, karena bagian ini lah yang berfungsi supaya boboko bisa berdiri tegak.
Selain sebagai pembuat boboko, Abah Dona juga menjadi bandar atau pengepul bagi masyarakat Desa Bagawat yang membuat boboko. Abah Dona membeli boboko dari masyarakat desa sebesar Rp. 5000 per satu buah boboko dan Rp. 4000 untuk satu buah ceceting, terang Abah Dona.
Abah dona menjelaskan, “Untuk bahan baku membuat boboko, saya tidak merasa kesulitas, karena semua bahan baku yang diperlukan untuk membuta boboko dan ceceting saya dapatkan dari alam desa bagawat”, tutur Abah Dona.
Dalam satu bulan, menurut Abah Dona, dirinya dapat mengumpulkan 800 kodi boboko atau ceceting, dengan harga Rp.120.000 untuk setiap kodi, dengan omset Rp.80.000.000 per bulan.
“Boboko dan ceceting tersebut untuk memenuhi permintaan pasar di Kabupaten Kuningan, Kabupaten Ciamis Bahkan dikirim hingga ke daerah Bogor”, katanya.
Namun, Abah Dona mengeluh tentang masalah penjualan. Menurutnya, saat ini telah banyak masyarakat yang beralilh menggunakan tempat nasi dari plastik. “Sejak tahun lalu saya merasa kesulitan untuk menjual boboko atau ceceting ke pasar, mungkin karena sekarang banyak masyarakat yang berlaih menggunakan tempat nasi dari plastik, hingga produksi boboko saat ini mengalami penurunan,”, katanya.
Kepala Desa Bagawat, Ertika mengatakan. Kerajinan tangan khas Desa Bagawat yaitu boboko dan ceceting, telah terbukti menjadi sumber pendapatan untuk masyarakat desa. Dari penjualan boboko dan ceceting bisa memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. “alhamdulilah, kerajianan boboko dan ceceting di desa kami, telah terbukti menjadi tulak malarat untuk masyarakat desa,” katanya.(angga)











