lpplkuningan.co.id – Api di Tempat Pembuangan Sampah Akhir atau TPSA Ciniru, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, akhirnya dinyatakan selesai ditangani.
Namun, menyebutnya sekadar sebagai kebakaran rasanya tidak cukup.
Sebab, api yang pertama kali diketahui pada Rabu, 12 Agustus 2026 itu tidak padam dalam hitungan jam. Dari kepulan asap di antara tumpukan sampah, penanganan berkembang menjadi operasi panjang yang melibatkan berbagai unsur.
Sekitar pukul 04.00 WIB, bau asap mulai tercium dari kawasan TPSA. Api kemudian terlihat di tumpukan sampah dan dengan cepat menyebar. Informasi mengenai kejadian itu diterima BPBD Kuningan sekitar pukul 07.30 WIB.
Hari pertama, petugas dari berbagai unsur langsung bergerak. BPBD menurunkan tim assessment dan tim penanganan. Petugas TPSA bersama TNI, Polri, Damkar, pemerintah desa, kecamatan dan unsur lainnya melakukan pemadaman. Citra drone juga digunakan untuk memetakan kondisi di lapangan.
Memasuki 13 Agustus, skala penanganan semakin terlihat. Sekitar 200 personel gabungan dikerahkan. Area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 5 hektare.
Api tidak hanya dilihat dari permukaan. Tim menggunakan drone thermal untuk mencari titik panas yang sulit terlihat secara langsung. Dari hasil pemetaan itu, petugas dibagi ke sejumlah sektor, terutama di bagian utara dan selatan TPSA.
Hari demi hari, pekerjaan yang dilakukan bukan lagi sekadar mengejar api.
Pendinginan menjadi bagian penting dari operasi.
Pada 14 Agustus, luas area yang terbakar diperkirakan sekitar 5,3 hektare. Sehari berikutnya, titik api mulai berkurang dan kepulan asap terlihat menipis. Tetapi pekerjaan belum selesai.
Bahkan pada 16 Agustus, masih ditemukan titik api baru di bagian timur sehingga pemadaman dan pendinginan terus dilakukan.
Pada 17 Agustus, ketika masyarakat merayakan Hari Kemerdekaan, tim gabungan tetap berada di TPSA Ciniru. Upacara peringatan kemerdekaan digelar di lokasi, sebelum petugas kembali melanjutkan pemadaman dan pendinginan.
Memasuki hari berikutnya, perhatian petugas juga sempat tertuju pada api yang merembet ke arah kebun bambu milik warga. Namun, secara bertahap titik api mulai berkurang.
Drone thermal kembali digunakan untuk membaca sebaran panas dan menjadi dasar menentukan langkah operasi berikutnya.
Tanggal 20 Agustus menjadi salah satu titik penting.
Api mulai terlokalisir di area TPSA dan tidak lagi menjalar ke lahan warga. Pemadaman dan pendinginan tetap dilakukan hingga malam. Pada hari itu, penanganan bahkan berlangsung sampai sekitar pukul 23.00 WIB.
Sehari kemudian, beberapa titik api kecil masih ditemukan di sektor tengah. Namun kondisinya terus berkurang.
Pada 22 dan 23 Agustus, api tetap terlokalisir di area TPSA. Tim melanjutkan pemadaman, pendinginan dan pemantauan.
Hingga akhirnya, Senin, 24 Agustus 2026.
Di tengah kepulan asap yang masih muncul di sejumlah titik, petugas kembali melakukan pendinginan. Hingga pukul 19.30 WIB, penanganan terus dilakukan.
Hari itu sekaligus menjadi hari ke-13 operasi penanganan kebakaran TPSA Ciniru.
BPBD Kuningan menyatakan kegiatan penanganan kebakaran telah selesai dilaksanakan. Meski demikian, pekerjaan belum benar-benar berakhir. Monitoring dan pemantauan berkala akan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada lagi titik api maupun potensi kebakaran kembali.
Selama operasi berlangsung, penanganan melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah daerah, BPBD, Damkar, TNI, Polri, Dinas Lingkungan Hidup, DPUTR, PDAM, Dinas Kesehatan, PMI, pemerintah kecamatan dan desa, relawan hingga masyarakat.
Berbagai kendaraan dan peralatan juga dikerahkan, termasuk armada pemadam, tangki air, excavator, hingga perangkat Springkle Tripod dan drone thermal.
Tiga belas hari di TPSA Ciniru akhirnya api telah berhasil dijinakkan. [UN]
Sumber: BPBD Kabupaten Kuningan













