lppluningan.o.id-Di permukiman warga Cangkuang, Kelurahan Kuningan, Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan, ada batu yang disebut Batu Pangcalikan. Batu tersebut, hingga kini dikeramatkan khususnya oleh masyarakat lantaran mengandung nilai-nilai budaya dan sejarah.
Dalam momen tertentu terutama pada bulan Robiul Awal atau bulan Mulud di sekitar Batu Pangcalikan biasa digelar acara ritual Sabumi, sebagai wujud syukur kepada yang maha kuasa, dan menghormati leluhur Kuningan.
Di lokasi Batu Pangcalikan itu masyarakat berkumpul memanjatkan do’a, bersama dipimpin oleh sesepuh masyarakat setempat.
Meski secara geografis permukiman warga Cangkuang berada di lingkungan perkotaan, namun suasana di perdesaan masih tampak kental di lingkungan daerah itu.
Keberadaan Batu Pangcalikan tidak terlepas dari rangkaian perjalanan Adipati Ewangga atau Adipati Cangkuang, pemimpin Kuningan masa Kaadipatian Kuningan. Bahkan nama Cangkuang, yang kini menjadi nama Kampung Cangkuang diduga kuat ada kaitannya dengan Adipati Ewangga.
Pangcalikan, mengandung arti tempat duduk. Berdasarkan cerita tokoh masyrakat setempat, bahwa dulunya batu ini digunakan untuk duduk oleh Adipati Ewangga, hingga kini disebut Batu Pangcalikan.(A.Margajaya)***



