Example floating
Example floating
EkonomiRagam

Ketua Kelompok Wanita Tani Desa Cimenga, Manfaatkan Daging Buah Pala jadi Makanan dan Minuman

×

Ketua Kelompok Wanita Tani Desa Cimenga, Manfaatkan Daging Buah Pala jadi Makanan dan Minuman

Sebarkan artikel ini

lpplkuningan.co.id-Di tangan Entin (51), Ketua Kelompok Tani (KWT) Desa  Cimenga, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, daging buah pala yang dianggap limbah berubah menjadi peluang usaha. Semula warga hanya memanfaatkan bijinya untuk rempah atau bumbu masak, kini diolah menjadi beragam produk makanan dan minuman bernilai ekonomi melalui UKM OPAL (Olahan Buah Pala).

Entin yang juga Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Cimenga itu mulai merintis usahanya sejak 2019. Sementara legalitas usaha mulai diurus pada 2021. Gagasan tersebut lahir dari kondisi di kampungnya yang memiliki potensi pohon pala cukup melimpah, namun belum dimanfaatkan optimal oleh masyarakat.

Di sini banyak buah pala. Selama ini yang diambil hanya bijinya untuk dijual, sedangkan daging buahnya dibuang. Padahal bisa diolah menjadi makanan dan minuman,” ujar Entin, belum lama ini.

Berbekal percobaan sederhana, ia mulai mengembangkan berbagai produk berbahan dasar pala, mulai dari wajit pala, sirup pala hingga permen pala. Seluruh produk dibuat dari daging buah pala yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

Untuk menjaga kualitas, sebagian besar bahan baku berasal dari kebun pala miliknya sendiri. Namun ketika stok berkurang, ia juga membeli hasil panen petani dan warga sekitar dengan harga berkisar Rp3.000 hingga Rp5.000 per kilogram, bergantung pada kualitas buah.

Salah satu produk unggulannya adalah wajit pala. Proses pembuatannya cukup panjang. Daging pala terlebih dahulu dikupas, dicuci bersih, kemudian direndam dalam air garam selama tiga hingga empat jam sebelum digiling.

Berbeda dengan wajit pada umumnya yang menggunakan kelapa, wajit buatan Entin menggunakan 100 persen daging pala. Gula ditambahkan untuk memberikan cita rasa manis, sementara tepung ketan berfungsi sebagai perekat adonan.

Menariknya, wajit pala justru lahir dari sebuah tantangan. Awalnya Entin lebih dulu memproduksi permen pala. Namun produk tersebut memiliki masa simpan yang relatif singkat sehingga sering rusak ketika penjualannya lambat.

“Dulu saya membuat permen. Kalau tidak cepat laku, sering basi. Akhirnya saya coba diolah menjadi wajit supaya lebih tahan lama. Awalnya khawatir rasanya masih asam, ternyata setelah diolah justru menjadi perpaduan rasa asam dan manis yang enak,” katanya.

Meski produknya terus berkembang, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini bukan lagi soal produksi, melainkan pemasaran. Produk OPAL kini telah masuk ke sejumlah pusat oleh-oleh di Kabupaten Kuningan dengan pengiriman rutin setiap pekan. Namun Entin mengaku masih ingin belajar mengenai strategi usaha agar keuntungan yang diperoleh bisa lebih optimal.

Berbagai dukungan juga terus mengalir, baik dari pemerintah desa, PKK maupun masyarakat sekitar. Saat ini UKM OPAL telah mengantongi berbagai legalitas usaha, mulai dari PIRT, Nomor Induk Berusaha (NIB), hingga sertifikat halal. Keberadaan OPAL pun menjadi pelopor olahan buah pala di Desa Cimenga sekaligus menjadi salah satu oleh-oleh khas desa tersebut.

Kebanggaan terbesar dirasakan Entin ketika produknya mendapat pesanan dari Bandung untuk dijadikan buah tangan yang akan dibawa ke Prancis. Baginya, hal itu menjadi bukti bahwa produk desa mampu menembus pasar yang lebih luas, bahkan hingga luar negeri.

“Harapan saya usaha ini bisa semakin maju, berkembang, dan nantinya bisa merekrut ibu-ibu KWT yang lain supaya ikut merasakan manfaatnya,” ungkapnya.

Ia pun mengajak masyarakat, terutama generasi muda, agar berani mengembangkan potensi lokal di daerah masing-masing. Menurutnya, bukan hanya buah pala yang memiliki nilai ekonomi. Berbagai produk lain seperti keripik singkong maupun keripik pisang juga memiliki peluang besar untuk berkembang apabila diimbangi dengan pengurusan legalitas usaha.

“Saya ingin masyarakat tidak takut berusaha. Yang penting mau berkarya dan mengurus legalitas produknya, supaya bisa dikenal lebih luas,” tutup Entin. [UN]Dari Limbah Jadi Berkah, Buah Pala Cimenga Disulap Jadi Oleh-Oleh. (UN)*

 

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *