Lpplkuningan.co.id-Tahun ajaran baru menjadi awal yang membahagiakan bagi ribuan pelajar. Namun, di balik semangat mengenakan seragam baru, masih ada siswa yang harus berjuang menghadapi keterbatasan ekonomi.
Biaya perlengkapan sekolah, khususnya seragam, masih menjadi kendala yang mengancam keberlangsungan pendidikan bagi keluarga kurang mampu.
Kondisi itu dialami Silvi Agustina (16), siswi kelas X SMK Negeri 1 Luragung asal Desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan. Sejak mulai masuk sekolah pada awal Juli lalu, Silvi masih mengenakan seragam SMP karena keluarganya belum mampu membeli lima jenis seragam yang diwajibkan sekolah.
Meski demikian, keadaan tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk belajar. Setiap hari, Silvi tetap berangkat ke sekolah yang berjarak sekitar 20 kilometer dari rumahnya dengan menumpang kendaraan temannya. Bahkan, tidak jarang ia berangkat tanpa membawa uang saku.
“Alhamdulillah teman-teman di sekolah tidak ada yang menghina. Semuanya baik,” tutur Silvi.
Silvi berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Ayahnya bekerja serabutan, sementara sang ibu merupakan ibu rumah tangga. Di tengah keterbatasan itu, keinginannya untuk terus menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi tetap kuat.
Menurut ibunya, Sumiasih, sejak duduk di bangku SMP, Silvi dikenal sebagai siswa berprestasi dan hampir selalu berada di jajaran 10 besar di kelasnya. Namun, kemampuan ekonomi keluarga belum mampu memenuhi kebutuhan seragam sekolah.
Harapan keluarga akhirnya mendapat secercah jalan ketika Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Kuningan memberikan bantuan untuk membantu pembelian sebagian kebutuhan seragam sekolah.
Wakil Ketua II Baznas Kabupaten Kuningan, Asep Z. Fauzi, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap anak-anak yang mengalami hambatan ekonomi agar tetap dapat melanjutkan pendidikan.
“Kebutuhan seragam memang belum seluruhnya dapat kami penuhi. Namun kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban keluarga dan menjadi penyemangat bagi Silvi untuk terus bersekolah,” ujarnya.
Ia menambahkan, bantuan yang disalurkan berasal dari dana zakat para muzaki dan diharapkan dapat menggerakkan kepedulian masyarakat terhadap anak-anak yang menghadapi persoalan serupa.
Kisah Silvi menjadi pengingat bahwa di balik semangat tahun ajaran baru, masih ada keluarga yang berjuang memenuhi kebutuhan pendidikan paling mendasar. Di tengah berbagai program peningkatan mutu pendidikan, akses terhadap perlengkapan sekolah yang layak masih menjadi pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian bersama. [UN]













